Analisis Kritis Budaya Nyongkolan Masyarakat Suku Sasak: Antara Kelestarian Budaya dan Krisis Moral
Keywords:
Nyongkolan, Sasak Tribe, Moral Crisis, Kecimol, TraditionAbstract
This study examines the Nyongkolan tradition in the Sasak community of Lombok from a critical perspective, focusing on the tension between cultural preservation and modern moral degradation. Nyongkolan is an essential part of the Sasak wedding ritual, serving as i'lan al-nikah (marriage announcement) to the public. Historically, it is accompanied by the majestic Gendang Beleq and upholds strict ethical codes (muru'ah). However, the contemporary shift toward Kecimol (modern street music) has introduced problematic behaviors, such as alcohol consumption, erotic dancing, and public disturbances, sparking a perceived moral crisis. Utilizing a qualitative ethnographic approach and a literature review of classical and contemporary Sunni (Ahlussunnah Waljamaah) jurisprudence, this research evaluates the phenomenon through the theory of 'Urf (custom) and Maqāṣid al-Sharī'ah. The findings indicate that while Nyongkolan is fundamentally a 'Urf Shahīh (valid custom) that strengthens social bonds, its recent manifestations often slide into 'Urf Fāsid (corrupt custom) due to the violation of Islamic moral principles. The study concludes that revitalizing traditional music and implementing village regulations (Awik-awik) are vital steps to reclaim the sacredness of Sasak culture and align it with religious integrity.
References
Ahmad, M. (2018). Ritus dan simbol pernikahan adat Sasak: Kajian etnografi di Lombok Tengah. Mataram: UIN Mataram Press.
Al-Amin, M., & Asrar, M. (2019). Hukum Islam dan tradisi lokal: Studi kasus praktik Pisuke di Lombok Barat. Jurnal Hukum Islam, 17(2), 120-135.
Al-Ghazali, A. H. (1993). Ihya' Ulumiddin (Terjemahan). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Amalia, A. R. (2017). Tradisi perkawinan Merariq Suku Sasak di Lombok: Studi kasus integrasi agama dengan budaya masyarakat tradisional. Jakarta: Kencana.
Amir Syarifuddin. (2014). Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Ansharah, I. I., Mustofa, M. L., & Jamilah, J. (2025). The sacred-profane dialectic in Sasak marriage rituals: A phenomenological analysis of the Merariq tradition. JENTRE, 6(2), 148-155.
Anwar, F. R., & Wathoni, L. M. N. (2021). Pembayaran uang Pisuke pada perkawinan adat Sasak: Studi kasus di Kecamatan Sakra Lombok Timur. Al-Afkar, 4(2), 330-345.
Ash-Shatibi, I. (n.d.). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
Azhari, H., & Sugitanata, A. (2020). Dampak larangan adat Nyongkolan bagi masyarakat Sasak Montong Bongor pada masa pandemi Covid-19. Sosial Budaya, 18(1), 68-78.
Az-Zuhaili, W. (2013). Ushul al-Fiqh al-Islami. Damaskus: Dar al-Fikr.
Burhanudin, & Heriyadi. (2024). Pergeseran nilai-nilai Islam dan budaya dalam tradisi Nyongkolan Adat Sasak (Studi pada kegiatan Nyongkolan menggunakan kesenian Kecimol). Ulul Albab, 3(1), 35-45.
Dahlan, F. (2015). Tuan Guru dan dinamika sosial keagamaan di Lombok. Mataram: Sanabil.
Dirjan, M., & Fikri, M. A. (2025). Pisuke accounting in the wedding culture of the Sasak tribe in Central Lombok. IJEBIR, 4(2), 535-545.
Djazuli, A. (2010). Ilmu Fiqh: Penggalian, Pengembangan, dan Penerapannya. Jakarta: Kencana.
Fairiza, A., & Widyatama, R. (2024). Merariq dalam pernikahan Suku Sasak: Analisis komunikasi dan dinamika sosial dalam ritual penculikan. Jurnal Analisa Sosiologi, 13(1), 193-218.
Hamdani, M., & Saini. (2025). Pisuke in the marriage customs of the Sasak tribe from the perspective of 'Urf: A case study in Terara village. Al-Hikmah, 1(2), 75-88.
Haq, H. S., & Hamdi, H. (2016). Perkawinan adat Merariq dan tradisi Selabar di masyarakat Suku Sasak. Perspektif, 21(3), 150-165.
Hasyim Asy'ari. (n.d.). Risalah Ahlussunnah Wal Jama'ah. Jombang: Maktabah Turats al-Islami.
Hernawati, L., Mahmuddin, & Anggriani, D. (2022). Pergeseran tradisi Nyongkolan pada proses perkawinan adat Suku Sasak. Sosioreligius, 5(1), 1-12.
Hidayat, A., Sari, D., & Zulkifli, M. (2021). Kearifan lokal dalam penyelesaian konflik sosial masyarakat Sasak Lombok. Gulawentah, 6(1), 15-28.
Hidayat, R. (2023). Policies for regulating Kecimol music of Sasak Nyongkolan culture at Jonggat District. Jurnal Tata Sejuta, 9(1), 228-240.
Imam Syafi'i. (n.d.). Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
Isnaeni, M. (2016). Hukum perkawinan Indonesia. Bandung: PT Refika Aditama.
Jamaluddin. (2020). Sejarah, naskah, dan tradisi masyarakat Sasak. Mataram: Sanabil.
Jumarim. (2022). Sorong serah doe dan pegat aji krame dalam puncak adat Sasak. Fondatia, 6(1), 10-25.
Lalu Lukman. (2006). Tata budaya adat Suku Sasak di Lombok. Jakarta: Kuning Mas.
Mansyur, Z. (2019). Kearifan sosial masyarakat Sasak-Lombok dalam tradisi lokal. Mataram: Sanabil.
Mawardi. (2024). Perkawinan adat Merariq Salah Tadah berdasarkan perspektif hukum Islam. Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan, 18(2), 314-337.
M. Nur Yasin. (2008). Hukum perkawinan Islam Sasak. Malang: UIN Malang Press.
Munawir, J., & Christianto, W. N. (2020). Nilai edukatif dalam budaya Lombok Nyongkolan. Imaji, 18(1), 42-50.
Naufal, A. (2018). Nyongkolan: Tradisi unik pernikahan di Lombok. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo.
Padli, E. (2020). Kesetaraan gender berbasis Pisuke di Desa Padamara dalam bidang pendidikan. Qawwam, 14(1), 35-50.
Sahibudin. (2021). Penentuan Pisuke dalam tradisi pernikahan di Lombok Barat perspektif Al-Urf. Mataram: UIN Mataram.
Santi, Y. (2025). Esensi adat kawin lari (Merariq) dalam masyarakat Suku Sasak di Desa Apitaik. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 3(2), 695-705.
Sulkhad, K. (2013). Merarik pada masyarakat Sasak: Sejarah, proses dan pandangan Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Adi Fadli, Ismail Mahendra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


